Makrab fak. psikologi

Makrab fak. psikologi

Minggu, 29 Mei 2016

Gangguan Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Artikel Psikologi Abnormal
FIKI FATIMAH
14.1060


Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder, OCD) adalah kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya.
Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha untuk melawan pikiran-pikiran menganggu tersebut yang timbul secara berulang-ulang akan tetapi tidak mampu menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala sesuatunya baik-baik saja.

PENYEBAB

Penyebabnya tidak diketahui. Gangguan obsesif-kompulsif tidak ada kaitan dengan bentuk karakteristik kepribadian seseorang, pada individu yang memiliki kepribadian obsesif-kompulsif cenderung untuk bangga dengan ketelitian, kerapian dan perhatian terhadap hal-hal kecil, sebaliknya pada gangguan obsesif-kompulsif, individu merasa tertekan dengan kemunculan perilakunya yang tidak dapat dikontrol. Mereka merasa malu bila perilaku-perilaku tersebut dipertanyakan oleh orang yang melihatnya karena melakukan pekerjaan yang secara berulang-ulang. Mereka berusaha mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan tersebut. 
Penyebab Obsesif Kompulsif adalah: 
  1. Genetik - (Keturunan). Mereka yang mempunyai anggota keluarga yang mempunyai sejarah penyakit ini kemungkinan beresiko mengalami OCD (Obsesif Compulsive Disorder). 
  2. Organik – Masalah organik seperti terjadi masalah neurologi dibagian - bagian tertentu otak juga merupakan satu faktor bagi OCD. Kelainan saraf seperti yang disebabkan oleh meningitis dan ensefalitis juga adalah salah satu penyebab OCD. 
  3. Kepribadian - Mereka yang mempunyai kepribadian obsesif lebih cenderung mendapat gangguan OCD. Ciri-ciri mereka yang memiliki kepribadian ini ialah seperti keterlaluan mementingkan aspek kebersihan, seseorang yang terlalu patuh pada peraturan, cerewet, sulit bekerja sama dan tidak mudah mengalah. 
  4. Pengalaman masa lalu - Pengalaman masa lalu/lampau juga mudah mencorakkan cara seseorang menangani masalah di antaranya dengan menunjukkan gejala OCD.
  5. Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan 
  6. Konflik - Mereka yang mengalami gangguan ini biasanya menghadapi konflik jiwa yang berasal dari masalah hidup. Contohnya hubungan antara suami-istri, di tempat kerja, keyakinan diri.
Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi, atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi. Perilaku yang obsesif pada ibu depresi berusaha berkali-kali atau berkeinginan untuk membunuh bayinya.
INDIVIDU YANG BERISIKO
Individu yang beresiko mengalami gangguan obsesif-kompulsif adalah; 
  • Individu yang mengalami permasalahan dalam keluarga dari broken home, kesalahan atau kehilangan masa kanak-kanaknya. (teori ini masih dianggap lemah namun masih dapat diperhitungkan) 
  • Faktor neurobilogi dapat berupa kerusakan pada lobus frontalis, ganglia basalis dan singulum. 
  • Individu yang memilki intensitas stress yang tinggi 
  • Riwayat gangguan kecemasan 
  • Depresi 
  • Individu yang mengalami gangguan seksual
GEJALA

Obsesi yang umum bisa berupa kegelisahan mengenai pencemaran, keraguan, kehilangan dan penyerangan. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang, dengan maksud tertentu dan disengaja.
Sebagian besar ritual bisa dilihat langsung, seperti mencuci tangan berulang-ulang atau memeriksa pintu berulang-ulang untuk memastikan bahwa pintu sudah dikunci. Ritual lainnya merupakan kegiatan batin, misalnya menghitung atau membuat pernyataan berulang untuk menghilangkan bahaya.
Penderita bisa terobsesi oleh segala hal dan ritual yang dilakukan tidak selalu secara logis berhubungan dengan rasa tidak nyaman yang akan berkurang jika penderita menjalankan ritual tersebut. Penderita yang merasa khawatir tentang pencemaran, rasa tidak nyamannya akan berkurang jika dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Karena itu setiap obsesi tentang pencemaran timbul, maka dia akan berulang-ulang memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Sebagian besar penderita menyadari bahwa obsesinya tidak mencerminkan resiko yang nyata. Mereka menyadari bahwa perliku fisik dan mentalnya terlalu berlebihan bahkan cenderung aneh.
Penyakit obsesif-kompulsif berbeda dengan penyakit psikosa, karena pada psikosa penderitanya kehilangan kontak dengan kenyataan. Penderita merasa takut dipermalukan sehingga mereka melakukan ritualnya secara sembunyi-sembunyi. Sekitar sepertiga penderita mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.
Gejala ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utam obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria:
  1. Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan. 
  2. Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak berhasil.
  3. Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya. 
  4. Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap harinya.
CIRI-CIRI OBSESIF KOMPULSIF

Simptom dari Obsesif Kompulsif ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utama obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
  1. Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan.
  2. Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak berhasil.
  3. Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya. 
  4. Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap harinya. 
  5. Obsesi dan kompulsi menyebabkan terjadinya tekanan dalam diri penderita dan menghabiskan waktu (lebih dari satu jam sehari) atau secara signifikan mengganggu fungsi normal seseorang, atau kegiatan sosial atau suatu hubungan dengan orang lain. 
  6. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang seperti mencuci tangan & melakukan pengecekan dengan maksud tertentu.
BERBAGAI PERILAKU GANGGUAN YAN SERING TERJADI :
  • Membersihkan atau mencuci tangan 
  • Memeriksa atau mengecek 
  • Menyusun 
  • Mengkoleksi atau menimbun barang 
  • Menghitung atau mengulang pikiran yang selalu muncul (obsesif) 
  • Takut terkontaminasi penyakit/kuman 
  • Takut membahayakan orang lain 
  • Takut salah 
  • Takut dianggap tidak sopan 
  • Perlu ketepatan atau simetri 
  • Bingung atau keraguan yang berlebihan. 
  • Mengulang berhitung berkali-kali (cemas akan kesalahan pada urutan bilangan)
Individu yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif kadang memilki pikiran intrusif tanpa tindakan repetatif yang jelas akan tetapi sebagian besar penderita menunjukkan perilaku kompulsif sebagai bentuk lanjutan dari pikiran-pikiran negatif sebelumnya yang muncul secara berulang, seperti ketakutan terinfeksi kuman, penderita gangguan obsesif-kompulsif sering mencuci tangan (washer) dan perilaku umum lainnya seperti diatas.

TREATMENT/PENANGANAN


1.      Psikoterapi.
Treatment psikoterapi untuk gangguan obsesif-kompulsif umumnya diberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ada beberapa faktor OCD sangat sulit untuk disembuhkan, penderita OCD kesulitan mengidentifikasi kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia normal-normal saja walaupun perilakunya itu diketahui pasti sangat menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan perilakunya tapi bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja. Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi yang dialami oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat individu merasa enggan untuk mengikuti terapi.
Cognitive-behavioural therapy (CBT) adalah terapi yang sering digunakan dalam pemberian treatment pelbagai gangguan kecemasan termasuk OCD. Dalam CBT penderita OCD pada perilaku mencuci tangan diatur waktu kapan ia mesti mencuci tangannya secara bertahap. Bila terjadi peningkatan kecemasan barulah terapis memberikan izin untuk individu OCD mencuci tangannya. Terapi ini efektif menurunkan rasa cemas dan hilang secara perlahan kebiasaan-kebiasaannya itu.
Dalam CBT terapis juga melatih pernafasan, latihan relaksasi dan manajemen stres pada individu ketika menghadapi situasi konflik yang memberikan kecemasan, rasa takut atau stres muncul dalam diri individu. Pemberian terapi selama 3 bulan atau lebih.
2.      Farmakologi
Pemberian obat-obatan medis berserta psikoterapi sering dilakukan secara bersamaan dalam masa perawatan penderita OCD. Pemberian obat medis hanya bisa dilakukan oleh dokter atau psikiater atau social worker yang terjun dalam psikoterapi. Pemberian obat-obatan haruslah melalui kontrol yang ketat karena beberapa dari obat tersebut mempunyai efek samping yang merugikan.
Obat medis yang digunakan dalam pengobatan OCD seperti; Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat mengubah level serotonin dalam otak, jenis obat SSRIs ini adalah Fluoxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), escitalopram(Lexapro),
paroxetine (Paxil), dan citalopram (Celexa)
Trisiklik (Tricyclics)
Obat jenis trisiklik berupa clomipramine (Anafranil). Trisiklik merupakan obat-obatan lama dibandingkan SSRIs dan bekerja sama baiknya dengan SSRIs. Pemberian obat ini dimulai dengan dosis rendah. Beberapa efek pemberian jenis obat ini adalah peningkatan berat badan, mulut kering, pusing dan perasaan mengantuk.
Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs). Jenis obat ini adalah phenelzine (Nardil), tranylcypromine (Parnate) dan isocarboxazid (Marplan). Pemberian MAOIs harus diikuti pantangan makanan yang berkeju atau anggur merah, penggunaan pil KB, obat penghilang rasa sakit (seperti Advil, Motrin, Tylenol), obat alergi dan jenis suplemen. Kontradiksi dengan MOAIs dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi.

KASUS :

Janice mengeluh berlebihan dalam membersihkan dan mencuci kamarnya. Dia memeberitahukan telah begitu lelah dikarenakan obsesinya tentang kuman dan keharusan untuk membershikan atau mencuci segala sesuatu yang di kamarnya. dia hampir tidak berfungsi dalam kehidupan segari-hari. dia telah kehilangan pekerjaanya karena, dia tidak dapat tepat waktu. biasanya pulang lebih awal untuk membersihkan kamarnya, sering meninggalkan saat makan siang dan tidak kembali bekerja sampai hari berikutnya. dia dipecat dari pekerjaan kesekertarian karena perilaku OCD-nya. saat ini diya pengangguran, apalagi diya tidak dapat bekerja di negara itu saat ini. Janice juga tertekan.

CATATAN KASUS :
Catatan kasus menunjukkan bahwa bahkan sebgai seorang anak kecil, janice khawatir tentang kebersihan, suatu sifat yang dia pikir dia peroleh dari ibunya. Adiknya meninggal ketia diya berumur 10 tahun. dia percaya bahwa diya bertanggung jawab terhadap kematian adiknya. tampaknya ia bermain dengan adiknya dan membiarkan adiknya menghisap jarinya untuk menghentikan adiknya menangis. namun sebelumnya diya telah bermain di halaman dan tidak mencuci tanganya sebelum diya memberikan jarinya kepada adiknya. secara bertahap, diya menjadi obsesiv dengan kuman sebagai pembunuh dan mulai membersihkan dan mencuci semua yang akan kontak langsung dengan diya. hal ini berlanjut selama beberapa tahun sampai kecemasannya tentang kuman dan dia memberiskan dan secara berkala membersihkan dan mencucui mulai mengusai dirinya.

Kriteria :
  •     Abnormal atau Tidak (DSM-IV) :
             1. Disfungsi Psikologis
             2. Impairement (Hendayan)
             3. Respon Atipikal
  • PPGDJ-III

          Menurut panduan PPDGJ-III gangguan obsesif kompulsif harus mencangkup hal-hal berikut :

v  Harus disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri sendiri.
v  Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan meskipun ada hal lain yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
v  Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasaan  atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau kecemasan, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud diatas)
v  Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).
  • DSM IV-TR
v  Kriteria DSM IV-TR untuk gangguan Obsesif Kompulsif ( OCD ) :Obsesi, pikiran yang berulang dan menetap, impuls-impuls atau dorongan yang menyebabkan kecemasan.
v  Kompulsi, perilaku dan tindakan mental repetitive yang dilakukan seseorang untuk menghilangkan ketegangan.


Diagnosa Berdasarkan Kasus :


a. Menentukan Abnormal atau Tidak
berdasarkan kriteria dan informasi yang dikumpulkan, sebagai berikut :
1. Disfungsi Psikologis, tidak dapat menjalankan peran (Kognitif, Afektif, Psikomotrik) Secara kognitif, jenice merasa khawatir apabila terdapat kuman yang dapat membunuhnya dari benda-benda di sekitar kamarnya apabila tidak di cuci dan dibersihkan. secara afektif, perasaan bersalah yang ditimbulkan karena merasa kematian adiknya karena kuman yang terdapat pada jari tanganya. sedangkan pada psikomotorik, jenice akan selalu berusaha membersihkan dan mencuci benda-benda yang berada dikamarnya, hingga merasa sudah tidak ada kuman lagi.
2. Impairement (Hendayan), yaitu individu yang abnormal akan merusak dirinya baik secara fisik dan psikologis. secara fisik, jenice akan sering menghabiskan waktunya untuk membersihkan dan mencucui barang-barang di kamarnya berkali-kali yang akan membuat dirinya menjadi lelah. sedangkan secara psikologis, rasa bersalah yang ditimbulkan sehingga memunculkan kekhawatiran, selain itu jenice juga merasa tertekan dengan perilakunya karena tidak dapat beraktivitas dengan normal.
3. Respon Atipikal, respon yang tidak sesuai dengan sosial-kultur. rasa kekhawatiran yang dimiliki jenice sudah sangat berbeda dari orang-orang pada umumnya karena biasanya seseorang akan membersihkan kamarnya secara keseluruhan tidak hanya lantainya hanya satu minggu sekali bahkan lebih dan tidak hanya mengabiskan waktunya hanya untuk membersihkan kamar.

Maka, dikarenakan ketiga kriteria abnormal terpenuhi, jadi Jenice termasuk kedalam perilaku Abonormal.
        
b. Jenis Gangguan.
Secara ringkas, Jenice mengalami kekhawatiran dan impulsnya yang berulang-ulang, perilaku yang dilakukan tidak berdasarkan untuk mencari kepuasan dan kesenangan, Kompulsi, tidak dapat melawan dan impuls berasal dari diri sendiri. 
sehingga gejala-gejala tersebut bila dimasukkan kedalam PPGDJ dan DSM-IV termasuk kedalam gangguan Obsesif Kompulsif ( OCD )
Di antara mereka yang mengalami gangguan Obsesif Kompulsif (OCD), sebagian besar tidak dapat merespon dengan baik terhadap pengobatan standar dari dua percobaan serotonin reuptake inhibitors dan cognitive-behavioral therapy. selain menjadi sulit disembuhkan dengan pengobatan saat ini, orang-orang ini sering memiliki gangguan penyerta yang berkontribusi terhadap kualitas hidup. Penulis menyajikan kasus,seorang individu yang dibantu untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan menerima OCD-nya sebagai kekuatan dan meningkatkan kesadaranya. sehingga ia mampu menyertakan OCD-nya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dia berhasil mengatasi melemahkan OCD-nya dan itu diambil dari semua pengobatan yang berlangsung selama waktu enam bulan intervensi. Tiga tahun pasca intervensi, tindak lanjut menunjukkan bahwa dia menyesuaikan diri dengan baik, memiliki penuh dan gaya hidup sehat dan meskipun pikiran obsesit tetap ada, mereka tidak mengontrol perilakunya.

SUMBER REFERENSI :
1.      Jurnal : A Mindfulness-Based Treatment of Obsessive-Compulsive Disorder
6.      Jurnal : A Mindfulness-Based Treatment of Obsessive-Compulsive Disorder
Oleh : NIRBHAY N. SINGH (ONE Research Institute), ROBERT G.WAHLER (University of Tennessee, Knoxville), ALAN S.W. WINTON (Massey University), ANGELA D. ADKINS (Western State Hospital), THE MINDFULNESS RESEARCH GROUP

1 komentar: