Makrab fak. psikologi

Makrab fak. psikologi

Minggu, 22 November 2015

contoh laporan pertanggung jawaban simple - fiki & tri


LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
Mimbar  Akademik Psikologi

FIKI FATIMAH (14.310.410.1060)
TRI JUMIATI (14.310.410.1063)


Assalamu'alaikum Wr Wb,
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah swt. Karena kasih sayang-Nya kita masih bisa bernafas dan menikmati anugerah kehidupan hingga saat ini, hanya karena pertolongan-Nya juga kami pelaksana Mimbar Akademik Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dapat melaksanakan dan mempertanggung-jawabkan kegiatan tersebut. Shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad saw, para sahabat, keluarga dan pengikut beliau, semoga kita selalu termasuk golongan yang mengikuti jalan keimanan mereka. Aamiin. Karena telah dilaksananya kegiatan Mimbar Akademik Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta pada tanggal 08 Oktober 2015 di ruang wakil rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Maka pada kesempatan ini kami dari panitia pelaksana melaporkan pertanggung-jawaban kegiatan tersebut.

NAMA DAN TEMA KEGIATAN
Kegiatan ini bernama Mimbar Akademik Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta ”     
Dengan Tema “ Pengelolaan Emosi Secara Cerdas Berdasarkan Tipe Kepribadian ”

WAKTU DAN TEMPAT
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 08 Oktober 2015 yang bertempat di ruang wakil rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

TUJUAN KEGIATAN
Adapun tujuan kegiatan ini adalah :
1.             Sebagai bentuk realisasi tugas dari Fakultas Psikologi kepada mahasiswa.
2.             Mengerti tipe kepribadian serta mengelolanya dengan cerdas.
3.             Sebagai realisasi program kerja Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
BENTUK KEGIATAN
Adapun bentuk kegiatan ini adalah:
No.
Hari/ Tanggal
Waktu
Kegiatan
Tempat
1.
Kamis, 08 Oktober 2015
12.30 – 13.30 WIB
Mimbar
Ruang WaRek
                                                                                             

PESERTA KEGIATAN
Peserta kegiatan ini adalah
1.      Mahasiswa (i) Reguler & Kelas karyawan kampus UP 45 Yogyakarta pada umumnya.
2.       Undangan luar kampus UP 45.



PELAKSANA KEGIATAN
Kegiatan ini dilaksanakan oleh 2 Mahasiswi aktif kelas reguler yang dipandu oleh dosen Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta (Susunan panitia terlampir I).

DANA DAN SUMBER DANA
Adapun Dana pemasukan sebesar Rp. 100.000,00,- (Seratus ribu rupiah).
Dengan sumber dana dari Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
Dan dan yang dikeluarkan untuk kegiatan ini sebesar Rp. 150.000,00,-  (Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah ) (Anggaran Dana Terlampir II)

PENUTUP
Demikian Laporan Pertanggungjawaban ini dibuat dan disampaikan, besar harapan kami semoga mendapat tanggapan yang positif dan dapat diterima dari semua pihak. Amin Ya Rabbal’alamin.
Yogayakarta, 19 Oktober 2015
PELAKSANA
MIMBAR AKADEMIK PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
PELINDUNG     : DOSEN FAKULTAS PSIKOLOGI
PANITIA PELAKSANA :
- FIKI FATIMAH
- TRI JUMIATI
- MARIA MELINDA RAHAIL
- INDA STELLA FAUBUN
- NAUFAL AFIF AL MURSALIN

RINGKASAN MATERI MIMBAR AKADEMIK PSIKOLOGI
UNVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
PENGELOLAAN EMOSI SECARA CERDAS BERDASARKAN TIPE KEPRIBADIAN

Emosi merupakan suatu pengalaman yang nyata dan disertai dengan penyesuaian diri dalam diri seseorang yang berkaitan dengan mental, dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang nampak serta semua jenis perasaan yang ada dalam diri seseorang, emosi memiliki peran yang sangat besar dalam dinamika jiwa dan mengendalikan tingkah laku seseorang.
Secara teoritis emosi dokembangkan sejak Charles Darwin, dalam kehidupan sehari-hari emosi identik dengan rasa marah, perilaku agresif atau ungkapan perasaan yang meledak-ledak.
Emosi merupakan suatu pengalaman yang nyata dan disertai dengan penyesuaian diri dalam diri seseorang yang berkaitan dengan mental, dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang nampak serta semua jenis perasaan yang ada dalam diri seseorang, emosi memiliki peran yang sangat besar dalam dinamika jiwa dan mengendalikan tingkah laku seseorang. Samsu Yusuf mencontohkan sebagai berikut:
1. Emosi dapat memperkuat semangat. Apabila seseorang merasa puas dan senang atas hasil yang dicapai.
2. Emosi dapat melemahkan semangat. Apabila timbul rasa kecewa atas kegagalan.
3. Emosi dapat menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, ketika ada kegagalan. Ketegangan perasaan, misalnya gugup.
4. Emosi mengganggu penyesuaian sosial, misalnya iri hati dan cemburu.
5. Suasana emosional yang dialami masa kecil, akan mempengaruhi sikapnya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.

Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk memotivasi dan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain.
Kecerdasan emosi (EQ) semakin perlu dicermati karena kehidupan manusia semakin komplek. Hal ini rupanya membawa dampak yang buruk terhadap kehidupan emosional seseorang. Hasil survey Daniel Goleman menunjukkan kecenderungan yang sama diseluruh dunia, bahwa generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional dari pada generasi sebelumnya. Mereka lebih kesepian dan murung, lebih beringas dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup, mudah cemas, lebih meledak-ledak (impulsif dan regresif). Goleman juga menemukan bahwa banyak juga orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena rendahnya kecerdasan intelektualnya, karena kurang memiliki kecerdasan emosional, sebaliknya sedikit orang yang berhasil dalam kehidupan meskipun IQ-nya rata-rata saja, tetapi kecerdasan emosionalnya tinggi.
Berdasarkan pendapat Goleman (dalam Mutadin, 2002:1) membagi kecerdasan emosional dalam beberapa kemampuan atau aspek yaitu:
1)      Mengenali Emosi Diri yakni kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri.
2)      Mengelola Emosi. Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri.
3)      Memotivasi Diri. Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal sebagai berikut, cara mengendalikan dorongan hati, derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang, kekuatan berfikir positif, optimisme, dan keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek
4)      Mengenali Emosi Orang Lain. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain.
5)      Membina Hubungan Dengan Orang Lain. Membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial. 
 Jadi kecerdasan emosional merupakan aspek yang sangat dibutuhkan dalam mengemudi dan dalam kehidupan bermasyarakat, selain itu masih banyak manfaat kecerdasan emosional yang lain yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, selain di lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan bermasyarakat. Selain itu kecerdasan emosionalah yang memotivasi kita untuk mencari manfaat, potensi dan mengubahnya dari apa yang kita pikirkan menjadi apa yang kita lakukan. Karena  kecerdasan emosional itu bukan muncul dari pemikiran intelek yang jernih tetapi muncul dari hati nurani, sehingga apapun  yang muncul dari perasaan  akan selalu memberikan informasi penting yang memotivasi kita untuk mencari potensi yang kita miliki serta dapat  menggunakannya secara baik dan benar. Meskipun Kecerdasan Emosional ini sifatnya dinamis, tidak tetap dan bisa berobah setiap saat, tetapi bila kecerdasan ini konsisten dimiliki, maka  semakin tua orang akan menjadi semakin bijaksana, Kecerdasan emosional tersebut sangat bermanfaat bagi semua golongan umur  di semua strata kehidupan, diantaranya dapat membuat  orang  tidak depresi, tidak cepat putus asa, tidak membuat implusif dan agresif, tidak cepat puas, tidak egois, selalu terbuka pada kritikan, terampil dalam melakukan hubungan sosial, tidak mudah marah dan lain sebagainya,  dan ini semua tentu akan berdampak positif untuk menghilangkan sosial problem, sebagai dampak  negatif globalisasi yang saat ini banyak terjadi di masyarakat.

LAMPIRAN I
SUSUNAN KEPANITIAN
PELINDUNG
DOSEN FAKULTAS PSIKOLOGI
PENASEHAT
1.       FX Wahyu W.,S.Psi.MA
2.       Dr. Arundti Shinta, MA
PELAKSANA ACARA
1.    Fiki Fatimah
2.    Tri Jumiati



LAMPIRAN II
Rincian Dana Pengeluaran
·         Snack peserta                                                  Rp. 136.000,00,-
·         FotoCopy Materi                                               Rp. 14.000,00,-
Jumlah                                                      Rp. 150.000,00,-
ANGGARAN DANA YANG DIKELUARKAN DALAM KEGIATAN INI SEBESAR
Rp 150.000,00,-
seratus lima puluh ribu rupiah )     

psikologi umum

TENTANG PSIKOLOGI
Contoh Masalah yang terjadi pada kebanyakan Remaja


  1. Bullying

Masa remaja adalah masa yang ditandai oleh adanya perkembangan yang pesat dari aspek biologic, psikologi, dan juga sosialnya.
Tiga factor yang berperan dalam hal kesehatan mental remaja tersebut adalah :
·         Factor individu ( kematangan otak dan konstitusi genetic) ex: tempramen
·         Factor pola asuh orang tua di masa anak dan pra-remaja
·         Factor lingkungan yaitu kehidupan keluarga, budaya local dan budaya asing.
Dari ketiga factor potensi anak akan berkembang dengan optimal apabila ditunjang oleh factor fisik dan lingkungan yang memadai namun factor genetic/konstitusional seperti kurangnya ketrampilan social seperti rasa takut dan tertekan dirasa paling berpengaruh.
Bullying merupakan salah satu pengaruh yang kuat dari kelompok teman sebaya serta berdampak pada kegagalan akademik pada anak.
BULLYING ( peer victimization) merupakan bentuk perilaku pemaksaan atau usaha menyakiti secara psikologi maupun fisik terhadap seseorang yang lemah oleh seseorang yang lebih kuat.
Terkadang bullying ini digunakan oleh para remaja untuk di terima di suatu kelompok ,dan berdampak negative pada diri anak yang di bully.
Seperti merasa di tidak percaya diri, sulit bergaul, lalu merasa takut datang ke sekolah lalu absensi menurun dan konsentrasi berkurang dan bahkan dapat mengakibatkan prestasi menurun.

2.       Obsesif – kompulsif

Penyakit yang menyerang kebanyakan remaja/dewasa pada umumnya yang berkaitan dengan keraguan, pencemaran, kehilangan dan penyerangan.

Biasanya penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual yaitu tindakan berulang dengan maksut tertentu dan disengaja.

Seorang remaja wanita yang masih sekolah dan belum tahu secara mendalam tentang seks ketika ia menjadi korban pemerkosaan jikaa remaja itu tidak bisa mengimbangi dan tidak bisa menerima kenyataan mungkin dia akan mengalami obsesif kompulsif dengan mencuci diri atau mencuci tangan secara terus menerus karna dia menganggap dirinya itu kotor.
Sehingga gangguan ini megakibatkan remaja yang masih sekolah ini akan mengalami gangguan dalam diri lalu menjalar ke dalam hidupnya lalu ke sekolah dan pola pikirnya pun sudah terganggu lalu prestasi menurun bahkan tidak mau sekolah lagi.


3.     Fobia (ketakutan)

Kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal tertentu.
Fobia bagi sebagian orang pengidap fobia dirasa susah dimengerti,dan menjadi korban bully an teman sekitarnya.
Fobia merupakan salah satu jenis-jenis hambatan sukses lainnya.

Bagi anak remaja yang menjadi teman seorganisasi saya waktu SMK dia takut pada pisang,lalu setiap ada pisang dia menjadi pusat perhatian untuk di jadikan korban bully atau bulan-bulanan bagi para teman-teman untuk membuat dia menangis dengan pisang tersebut,dan mengakibatkan anak itu tidak mau sekolah lagi.


4.     Retardasi mental.

Muncul sebelum usia 18 tahun dan dicirikan dengan keterbatasan substandar dalam berfungsi, yang dimanifestasikan dengan fungsi intelektual secara signifikan berada dibawah rata-rata (mis., IQ dibawah 70) dan keterbatasan terkait dalam dua bidang keterampilan adaptasi atau lebih (mis., komunikasi, perawatan diri, aktivitas hidup sehari-hari, keterampilan sosial, fungsi dalam masyarakat, pengarahan diri, kesehatan dan keselamatan, fungsi akademis, dan bekerja.

5.       Autisme

Dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas (Johnson, 1997). Gejala-gejalanya meliputi kurangnya responsivitas terhadap orang lain, menarik diri dari hubungan sosial, kerusakan yang menonjol dalam komunikasi, dan respon yang aneh terhadap lingkungan (mis., tergantung pada benda mati dan gerakan tubuh yang berulang-ulang seperti mengepakkan tangan, bergoyang-goyang, dan memukul-mukulkan kepala).

6.     Gangguan ansietas

sering terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut ke masa dewasa :

a. Gangguan obsesif kompulsif, gangguan ansietas umum, dan fobia banyak terjadi pada anak-anak dan remaja, dengan gejala yang sama dengan yang terlihat pada orang dewasa.

b. Gangguan ansietas akibat perpisahan adalah gangguan masa kanak-kanak yang ditandai dengan rasa takut berpisah dari orang yang paling dekat dengannya. Gejala-gejalanya meliputi menolak pergi ke sekolah, keluhan somatik, ansietas berat terhadap perpisahan dan khawatir tentang adanya bahaya pada orang-orang yang mengasuhnya.


7.     Skizofrenia

a. Skizofrenia anak-anak jarang terjadi dan sulit didiagnosis. Gejala-gejalanya dapat menyerupai gangguan pervasif, seperti autisme. Walaupun penelitian tentang skizofrenia anak-anak sangat sedikit, namun telah dijumpai perilaku yang khas (Antai-Otong, 1995b), seperti beberapa gangguan kognitif dan perilaku, menarik diri secara sosial, dan komunikasi.


b. Skizofrenia pada remaja merupakan hal yang umum dan insidensinya selama masa remaja akhir sangat tinggi. Gejala-gejalanya mirip dengan skizofrenia dewasa. Gejala awalnya meliputi perubahan ekstrim dalam perilaku sehari-hari, isolasi sosial, sikap yang aneh, penurunan nilai-nilai akademik, dan mengekspresikan perilaku yang tidak disadarinya.

CONTOH RINGKASAN SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA ASERTIVITAS DENGAN HARGA DIRI PADA REMAJA SMU BOPKRI BANGUNTAPAN BANTUL

HUBUNGAN  ANTARA ASERTIVITAS DENGAN HARGA DIRI PADA REMAJA
SMU BOPKRI BANGUNTAPAN BANTUL
Oka Nur Cahya(2009) - Fiki Fatimah

Harga diri (self esteem) adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya (stuart & sundeen, 1991). Jadi harga diri ini menggambarkan sejauhmana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga dan berkompeten. Bagaimana seseorang itu mampu menilai dirinya maka diharapkan perilaku untuk menyampaikan pendapat dengan langsung dan bijaksana atau yang disebut dengan perilaku asertif (Diana, 2002).
Perilaku asertif merupakan kemampuan seseorang menyatakan diri, pandangan-pandangan dalam dirinya, keinginan dan perasaannya secara langsung, spontan, bebas dan jujur tanpa merugikan diri sendiri dan melanggar hak-hak orang lain. Seseorang yang berperilaku asertif mampu menghargai hak diri sendiri dan orang lain, bersikap aktif dalam kehidupannya untuk mencapai apa yang diinginkan. Beberapa karateristik individu yang memiliki perilaku asertif yang tinggi, antara lain merasa bebas untuk menampilkan dirinya, dapat berkomunikasi dengan baik secara terbuka, langsung, jujur dan tepat, serta memiliki orientasi aktif dalam kehidupan untuk mencapai apa yang diinginkannya (Fensterheim & Baer 1975).
Asertif merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain (Admin & Rini 2004).
Dalam diri seseorang konsep diri tidak dapat dipisahkan dari penerimaan diri, harga diri, pemikiran diri dan percaya diri (Purwanto, 1995). Konsep diri adalah faktor internal yang mendasari terbentuknya perilaku asertif (Purwanto, 1995)
Permasalahan yang relevan tentang asertivitas adalah tidak sedikit remaja belum memiliki konsep diri untuk mendasari perilaku asertif untuk mengkomunikasikan apa yang ia rasakan dan pikirkan. Ketika remaja berkesempatan untuk berperilaku asertif, maka mereka belum mampu menjaga perasaan orang lain. Mungkin saja dampak perilaku asertif itu adalah justru menyakiti orang lain. Kesulitan remaja dalam berperilaku asertif adalah karena konsep dirinya belum matang. Menurut Hurlock (1997) Masa remaja adalah periode perlihan, perubahan, dari usia kanak-kanak ke masa dewasa. Remaja merasa tidak pantas berperilaku anak-anak namun mereka juga belum sanggup untuk berperilaku dewasa layaknya orang tuanya.