HUBUNGAN ANTARA ASERTIVITAS DENGAN HARGA DIRI PADA REMAJA
SMU
BOPKRI BANGUNTAPAN BANTUL
Oka Nur Cahya(2009) - Fiki Fatimah
Harga diri (self esteem) adalah penilaian individu terhadap hasil yang
dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya
(stuart & sundeen, 1991). Jadi harga diri ini menggambarkan sejauhmana
individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan,
keberartian, berharga dan berkompeten. Bagaimana seseorang itu mampu menilai
dirinya maka diharapkan perilaku untuk menyampaikan pendapat dengan langsung
dan bijaksana atau yang disebut dengan perilaku asertif (Diana, 2002).
Perilaku
asertif merupakan kemampuan seseorang menyatakan diri, pandangan-pandangan dalam
dirinya, keinginan dan perasaannya secara langsung, spontan, bebas dan jujur
tanpa merugikan diri sendiri dan melanggar hak-hak orang lain. Seseorang yang
berperilaku asertif mampu menghargai hak diri sendiri dan orang lain, bersikap
aktif dalam kehidupannya untuk mencapai apa yang diinginkan. Beberapa
karateristik individu yang memiliki perilaku asertif yang tinggi, antara lain
merasa bebas untuk menampilkan dirinya, dapat berkomunikasi dengan baik secara
terbuka, langsung, jujur dan tepat, serta memiliki orientasi aktif dalam kehidupan untuk mencapai apa yang diinginkannya (Fensterheim & Baer 1975).
Asertif merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang
diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap
menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain (Admin & Rini
2004).
Dalam diri seseorang konsep diri tidak dapat dipisahkan dari penerimaan
diri, harga diri, pemikiran diri dan percaya diri (Purwanto, 1995). Konsep diri
adalah faktor internal yang mendasari terbentuknya perilaku asertif (Purwanto,
1995)
Permasalahan
yang relevan tentang asertivitas adalah
tidak sedikit remaja belum memiliki konsep diri untuk mendasari perilaku
asertif untuk mengkomunikasikan apa yang ia rasakan dan pikirkan. Ketika remaja
berkesempatan untuk berperilaku asertif, maka mereka belum mampu menjaga
perasaan orang lain. Mungkin saja dampak perilaku asertif itu adalah justru
menyakiti orang lain. Kesulitan remaja dalam berperilaku asertif adalah karena
konsep dirinya belum matang. Menurut Hurlock (1997) Masa remaja adalah periode
perlihan, perubahan, dari usia kanak-kanak ke masa dewasa. Remaja merasa tidak
pantas berperilaku anak-anak namun mereka juga belum sanggup untuk berperilaku
dewasa layaknya orang tuanya.
Perilaku asertif lebih adaptif daripada submisif dan agresif, asertif
menimbulkan harga diri yang tinggi dan hubungan interpersonal yang memuaskan (Widjaja
& Wulan, 1998). Oleh karena itu kebutuhan harga diri pada remaja merupakan
kebutuhan yang sangat penting (Tjahjaningsih & Nuryoto, 1994).
Penelitian
ini bertujuan untuk menguji secara empiris tentang adanya hubungan antara asertivitas
dengan harga diri pada remaja. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja pertengahan
yang berusia antara 16 sampai dengan 18 tahun yang bersekolah di Sekolah
Menengah Umum BOPKRI Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Penelitian ini
menggunakan teknik incidental sampling.
Data penelitian menggunakan Metode skala. Adapun skala yang dibuat penulis
dalam penelitian ini adalah skala asertivitas dengan harga diri.
Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan yang
positif antara asertivitas dengan harga diri pada remaja. Semakin tinggi
asertivitas remaja maka semakin tinggi harga diri remaja,sedangkan semakin
rendah asertivitas remaja, semakin rendah harga diri remaja. Penelitian ini
melibatkan siswa kelas 2 SMU BOPKRI Banguntapan, Bantul berumur antara 16
sampai dengan 18 tahun berjumlah 46 siswa. Penelitian ini menggunakan teknik
cluster sampling. Data penelitian menggunakan metode skala. Adapun skala yang
digunakan dalam penelitian ini adalah skala asertivitas yang diukur dengan
skala RAS (Rathus Assertivity Schedule) dan terdiri dari 6 aspek (Kearney,
Beatty, Plax, Mc Croskey, 1984) :
1. Mengekspresikan perasaan,
2. Mengemukakan ide,
3. Mengajukan pernyataan tanpa rasa cemas,
4. Menolak permintaan,
5. Rasa percaya diri & penerimaan,
6. Pandangan yang positif.
Dan harga diri diungkap dengan skala SEI (Self Esteem
Inventory) dan terdiri dari 3 aspek (Coopersmith, 1967) :
1. Penilaian diri,
2. Penerimaan diri,
3. Lingkungan.
Rangkuman
hasil uji validitas dan reliabilitas skala asertivitas
Perhitungan
per Aspek
|
No
|
Aspek
|
Jumlah item valid
|
Indeks validitas
|
Indeks reliabilitas
|
|
1.
|
Mengekspresikan perasaan
|
9
|
0,306 – 0,510
|
0,712
|
|
2.
|
Mengemukakan ide
|
11
|
0,360 – 0,591
|
0,799
|
|
3.
|
Mengajukan pernyataan tanpa rasa cemas
|
8
|
0,326 – 0,619
|
0,757
|
|
4.
|
Menolak permintaan
|
2
|
0,363 – 0,363
|
0,532
|
|
5.
|
Rasa percaya diri & penerimaan
|
6
|
0,329 – 0,473
|
0,645
|
|
6.
|
Pandangan yang positif
|
3
|
0,399 – 0,573
|
0,662
|
|
|
Jumlah
|
39
|
|
|
Rangkuman
hasil uji validitas dan reliabilitas skala harga diri
Perhitungan
per Aspek
|
No
|
Aspek
|
Jumlah item valid
|
Indeks validitas
|
Indeks reliabilitas
|
|
1.
|
Penilaian diri
|
7
|
0,364 – 0,507
|
0,271
|
|
2.
|
Penerimaan diri
|
8
|
0,364 – 0,527
|
0,767
|
|
3.
|
Lingkungan
|
6
|
0,305 – 0,544
|
0,703
|
|
|
|
21
|
|
|
Hasil Penelitian
Analisis data untuk mengetahui korelasi antara
variable harga diri dan variable asertivitas menggunakan product moment dari
pearson.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa besarnya
koefisien korelasi antara kedua variable adalah rxy = 0,296 dengan
(p) = 0,005 (p<0,01)dan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan
positif yang sangat signifikan, yaitu semakin tinggi asertivitas, maka semakin
tinggi harga diri.
Selain itu penelitian ini juga menganalisis untuk
mengetahui besarnya sumbangan variable bebas dalam variable tergantung. Hasil
analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien determinat (rxy2)
= 0,088 hal ini menunjukkan bahwa variable asertivitas memberi sumbangan
sebesar 8,8 % terhadap variable harga diri.
DAFTAR
PUSTAKA
Diana,
A. (2002) . Hubungan antara asertivitas dengan dorongan seksual pada remaja SMU
BOPKRI Banguntapan Bantul. Skripsi (tidak diterbitkan).Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
Purwanto.
(1995) .Peranan harga diri, intelegensi, dan jenis kelamin terhadap perilaku
asertif pada remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta:fakultas psikologi
universitas proklamasi 45 yogyakarta.
Tjahjaningsih
& Nuryoto,S . (1994) .Harga diri remaja yang bertempat tinggal di dalam
lingkungan komplek pelacuran dan diluar komplek pelacuran. Jurnal Psikologi. No.
2,9 – 16. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Widjaja,P.D.C
& Wulan, R.(1998).Hubungan antara asertivitas dan kematangan dengan kecenderungan
neurotik pada remaja.Jurnal Psikologi.UGM.No. 2,56 – 62.
Kearney, P., Beatty, M.J.,
Plax, T.G. & Mc Croskey, J.C. (1984) . Factor analysis of the reathus
assertiveness schedule and the personal report of communication
apprehension-24: Replication and extension. Psychological Report, 54, 851-854.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar