Makrab fak. psikologi

Makrab fak. psikologi

Minggu, 22 November 2015

CONTOH RINGKASAN SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA ASERTIVITAS DENGAN HARGA DIRI PADA REMAJA SMU BOPKRI BANGUNTAPAN BANTUL

HUBUNGAN  ANTARA ASERTIVITAS DENGAN HARGA DIRI PADA REMAJA
SMU BOPKRI BANGUNTAPAN BANTUL
Oka Nur Cahya(2009) - Fiki Fatimah

Harga diri (self esteem) adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya (stuart & sundeen, 1991). Jadi harga diri ini menggambarkan sejauhmana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga dan berkompeten. Bagaimana seseorang itu mampu menilai dirinya maka diharapkan perilaku untuk menyampaikan pendapat dengan langsung dan bijaksana atau yang disebut dengan perilaku asertif (Diana, 2002).
Perilaku asertif merupakan kemampuan seseorang menyatakan diri, pandangan-pandangan dalam dirinya, keinginan dan perasaannya secara langsung, spontan, bebas dan jujur tanpa merugikan diri sendiri dan melanggar hak-hak orang lain. Seseorang yang berperilaku asertif mampu menghargai hak diri sendiri dan orang lain, bersikap aktif dalam kehidupannya untuk mencapai apa yang diinginkan. Beberapa karateristik individu yang memiliki perilaku asertif yang tinggi, antara lain merasa bebas untuk menampilkan dirinya, dapat berkomunikasi dengan baik secara terbuka, langsung, jujur dan tepat, serta memiliki orientasi aktif dalam kehidupan untuk mencapai apa yang diinginkannya (Fensterheim & Baer 1975).
Asertif merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain (Admin & Rini 2004).
Dalam diri seseorang konsep diri tidak dapat dipisahkan dari penerimaan diri, harga diri, pemikiran diri dan percaya diri (Purwanto, 1995). Konsep diri adalah faktor internal yang mendasari terbentuknya perilaku asertif (Purwanto, 1995)
Permasalahan yang relevan tentang asertivitas adalah tidak sedikit remaja belum memiliki konsep diri untuk mendasari perilaku asertif untuk mengkomunikasikan apa yang ia rasakan dan pikirkan. Ketika remaja berkesempatan untuk berperilaku asertif, maka mereka belum mampu menjaga perasaan orang lain. Mungkin saja dampak perilaku asertif itu adalah justru menyakiti orang lain. Kesulitan remaja dalam berperilaku asertif adalah karena konsep dirinya belum matang. Menurut Hurlock (1997) Masa remaja adalah periode perlihan, perubahan, dari usia kanak-kanak ke masa dewasa. Remaja merasa tidak pantas berperilaku anak-anak namun mereka juga belum sanggup untuk berperilaku dewasa layaknya orang tuanya.

Perilaku asertif lebih adaptif daripada submisif dan agresif, asertif menimbulkan harga diri yang tinggi dan hubungan interpersonal yang memuaskan (Widjaja & Wulan, 1998). Oleh karena itu kebutuhan harga diri pada remaja merupakan kebutuhan yang sangat penting (Tjahjaningsih & Nuryoto, 1994).
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris tentang adanya hubungan antara asertivitas dengan harga diri pada remaja. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja pertengahan yang berusia antara 16 sampai dengan 18 tahun yang bersekolah di Sekolah Menengah Umum BOPKRI Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan teknik incidental sampling. Data penelitian menggunakan Metode skala. Adapun skala yang dibuat penulis dalam penelitian ini adalah skala asertivitas dengan harga diri.
Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan yang positif antara asertivitas dengan harga diri pada remaja. Semakin tinggi asertivitas remaja maka semakin tinggi harga diri remaja,sedangkan semakin rendah asertivitas remaja, semakin rendah harga diri remaja. Penelitian ini melibatkan siswa kelas 2 SMU BOPKRI Banguntapan, Bantul berumur antara 16 sampai dengan 18 tahun berjumlah 46 siswa. Penelitian ini menggunakan teknik cluster sampling. Data penelitian menggunakan metode skala. Adapun skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala asertivitas yang diukur dengan skala RAS (Rathus Assertivity Schedule) dan terdiri dari 6 aspek (Kearney, Beatty, Plax, Mc Croskey, 1984) :
1.    Mengekspresikan perasaan,
2.    Mengemukakan ide,
3.    Mengajukan pernyataan tanpa rasa cemas,
4.    Menolak permintaan,
5.    Rasa percaya diri & penerimaan,
6.    Pandangan yang positif.
Dan harga diri diungkap dengan skala SEI (Self Esteem Inventory) dan terdiri dari 3 aspek (Coopersmith, 1967) :
1.    Penilaian diri,
2.    Penerimaan diri,
3.    Lingkungan.

Rangkuman hasil uji validitas dan reliabilitas skala asertivitas
Perhitungan per Aspek
No
Aspek
Jumlah item valid
Indeks validitas
Indeks reliabilitas
1.     
Mengekspresikan perasaan
9
0,306 – 0,510
0,712
2.     
Mengemukakan ide
11
0,360 – 0,591
0,799
3.     
Mengajukan pernyataan tanpa rasa cemas
8
0,326 – 0,619
0,757
4.     
Menolak permintaan
2
0,363 – 0,363
0,532
5.     
Rasa percaya diri & penerimaan
6
0,329 – 0,473
0,645
6.     
Pandangan yang positif
3
0,399 – 0,573
0,662

Jumlah
39



Rangkuman hasil uji validitas dan reliabilitas skala harga diri
Perhitungan per Aspek
No
Aspek
Jumlah item valid
Indeks validitas
Indeks reliabilitas
1.     
Penilaian diri
7
0,364 – 0,507
0,271
2.     
Penerimaan diri
8
0,364 – 0,527
0,767
3.     
Lingkungan
6
0,305 – 0,544
0,703


21



Hasil Penelitian
Analisis data untuk mengetahui korelasi antara variable harga diri dan variable asertivitas menggunakan product moment dari pearson.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa besarnya koefisien korelasi antara kedua variable adalah rxy = 0,296 dengan (p) = 0,005 (p<0,01)dan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan, yaitu semakin tinggi asertivitas, maka semakin tinggi harga diri.
Selain itu penelitian ini juga menganalisis untuk mengetahui besarnya sumbangan variable bebas dalam variable tergantung. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien determinat (rxy2) = 0,088 hal ini menunjukkan bahwa variable asertivitas memberi sumbangan sebesar 8,8 % terhadap variable harga diri.
DAFTAR PUSTAKA


Diana, A. (2002) . Hubungan antara asertivitas dengan dorongan seksual pada remaja SMU BOPKRI Banguntapan Bantul. Skripsi (tidak diterbitkan).Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
Purwanto. (1995) .Peranan harga diri, intelegensi, dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif pada remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta:fakultas psikologi universitas proklamasi 45 yogyakarta.
Tjahjaningsih & Nuryoto,S . (1994) .Harga diri remaja yang bertempat tinggal di dalam lingkungan komplek pelacuran dan diluar komplek pelacuran. Jurnal Psikologi. No. 2,9 – 16. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Widjaja,P.D.C & Wulan, R.(1998).Hubungan antara asertivitas dan kematangan dengan kecenderungan neurotik pada remaja.Jurnal Psikologi.UGM.No. 2,56 – 62.

Kearney, P., Beatty, M.J., Plax, T.G. & Mc Croskey, J.C. (1984) . Factor analysis of the reathus assertiveness schedule and the personal report of communication apprehension-24: Replication and extension. Psychological Report, 54, 851-854.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar